Selasa, November 18, 2008

Hujan sore itu

15 november, sore hari yang dibalut hujan aroma cinta

Hujan sore itu mendesirkan cinta. Rasa,
mimpi, kasih, dingin angin menjadikannya abadi.
dalam rupa dialog kita yang menghamburkan asmara.
dan satu dua alirannya bermuara di tatapanmu.
rasa bibir ini kelu, aku atau kau yang tak mampu
berkata lagi...

Hujan sore itu bernama keindahan. Tetesan air,
lembabnya petir dan gemuruh, mengisyaratkan betapa
ini cinta tak terbendung jua gejolaknya. Dan
kita berbincang lalui hati dan perasaan. " kasih,
jangan tatap aku lebih dalam". Aku bisa hanyut
bersama gelombang euforia bernama bayang bayang itu.
dan tenggelam pada rasa percintaan yang tak jelas palungnya.
sebab terlalu dalam...

Kalau hujan ini tlah sampai henti.
bahkan untuk melepas tatapanmu, pun aku tak rela.
ingin kuabadikan menjadi zam zam bagi dahaga padang gersang
dan mekarnya edelwish di puncak hatiku yang berkhayal
panjang...

Hujan sore itu mendesirkan cinta dan kunamai saja keindahan.
aku ingin kuyup pada deras indah senyumanmu
lalu mandi dengan hangat siraman ucapanmu,
" kalau hujan ini berhenti, sayang. Hadirkanlah lembayung
di mimpiku. Dan keabadian lembar demi lembar

kisah kita!".

Nurma

Kalau ini sebuah keindahan
maka jangan akhiri, sayang.
sungguh aku inginkan, semua
yang terjalin menjadi abadi.
tanpa kata akhir, walau semuanyapun mengalir. Ke arah
hilang...

Nurma,
adalah anugerah.
saat dirimu mempersembahkan cinta,
menyuguhkan hati, dan menghamburkan rasa padaku.
bukan hati yang bergetar, tapi cintaku terlampau besar
untuk dapat waktu memberikan batas padanya.
maka jangan akhiri, sayang.

Nurma, aku yang mencintaimu.
melahirkan rasa yang selamanya kan kujaga.
bukan sekedar kata kata mengudara, tapi
lebih dari apapun di hatiku. Adalah kau.
bukan makhluk negeri seberang atau peri masa lampau.
yang itu...

Nurma, kaulah keindahan pertama yang
datang ke dermaga bernama kesepian ini.
Dan aku putuskan, kaulah
perhetian...

maka jangan akhiri, sayang.

18 november, saat wajahnya sepenuhnya menghantui.

Sebuah dialog dalam diam

Awalnya aku hanya tersenyum,
dan ternyata kaupun hanya tersenyum.

Setelah itu aku hanya diam,
dan ternyata kaupun hanya diam.

Selanjutnya kuputuskan hanya mengadah,
dan kaupun memutuskan untuk mengangguk.

Seterusnya aku selalu tersenyum,
kaupun selalu tersenyum lebih indah.

Akhirnya aku benar benar tak berkata,
jiwaku tersipu.
Dan kau menunduk malu,
pipimu memerah...

sepasang merpati di atas sana.

11 november, sebuah kantin.

Selasa, November 11, 2008

Dikte Mimpi

Kasih, perjalananku terhenti padamu. Batu batu,
daun daun, dan nisan dari perjalananku membeku.
Angin membawaku pada sebuah muara, Di mana
aura adalah kau, airnya adalah kau, bayang bayang
membuaiku dalam alunan melodi tanpa nama. Jiwaku
menari dalam ketukan tak beraturan. Namun,
tenggelam pada desah nafasmu yang perlahan. Melemaskan
semua persendian.

Kasih, perjalananku terhenti padamu. Sinaran mata,
bibir yang ranum, dan ucapanmu yang mendikte mimpi. Tentang
kerinduan yang menebal dari resah ke sumringah. Mencipta
hasrat yang menggebu untuk menciumi hidupmu yang bertanya.
Betapa rindu ini tak tertahan, jiwa ini basah
oleh air matamu yang keruh tak karuan.

sedang ucapanmu masih mendikte mimpi tentang kerinduan yang mendalam. Di jiwa

Ingatkah kau pada mentari itu, yang suatu senja membuatnya
tenggelam dengan penuh ajakan kerinduan. Kita berbincang malu,
tentang perasaan perasaan gila. Yng sampai menelusup ke mimpi mimpi
kita. lalu berkata kata tentang wangi malam, bintang bintang,
dan bayang bayang yang merangkak dari taman ke taman.

Sedang ucapanmu kini mendikte sangat cepat, aku simpulkan saja
bahwa kau berkata " Aku mencintaimu, Na. Aku pasrahkan saja ini
perasaan, sampai suatu ketika menjadi abadi dan ketika mati dengan
saling tersenyum.

Aku hanya merasakan hatiku bergetar,
" kalau begitu, aku ingin kita dikubur dengan nisan yang sama".

" maksudmu, Na?".