Kamis, Oktober 23, 2008

Lie

- untuk iblis yang menyamar peri, yang padanya sebuah kesalahan terjadi-

cintaku adalah kutukan, sedang sekarang,
kau adalah manusia dengan rupa siluman. Betapa
rasa yang kau panasi sampai menguap, tertiup angin malam,
dan menghilang tanpa sisa di entah. Serta aku tak sanggup,
jika harus menuangkan cinta ini pada cawan hatimu yang kotor.
serupa tempat dedak yang sudah dupatuki itik. Pendustaan yang menyayat,
bagimu mungkin hanya sekedar menggelitik saja.

Waktu terpaksa menjadi saksi. Bahwa
aku pernah memanggilmu peri dan menyuguhkan hati,
tapi kau sendiri yang membuatku mual dengan itu. sebuah muka
di balik muka. Dan aku lebih memilih untuk tidak
memperhatikan keduanya. kecantikanmu cukup untuk membuat
mataku buta dan hatiku bisu. serta tak mengerti
tentang arah arah.

kini kau ada di mana?
mungkinkah di sebuah jalan raya yang sunyi,
tempat para pria kaya mampir dengan resleting terbuka lebar dan
wajah penuh nafsu. Kal an'am. Kau dan mereka.

Mungkin juga di sebuah kamar yang lembab.
Tubuhmu basah diserang cumbu cumbu pria bermuka domba.
Tapi itulah yang kau pilih!. Enyah dari putih cintaku dan
menghampiri hati lain yang memproduksi rupiah. Kalau begitu,
kau mungkin menjadi jalang. Boneka milik pemuda berhidung belang.
yang menyerang ganas kehormatanmu.

Sayang, sebaiknya kau membuat upacara pergantian nama,
bersama ribuan dupa yang terbakar dan bunga tujuh rupa yang mekar.
undang juga bintang binatang itu, bersama juga iblis dan syetan.
suci? sungguh sama sekali tak

sejalan dengan keadaan.

Sabtu, Oktober 18, 2008

first love

- untuk Elis suryaningsih-

sayang, ingatan ini akar belukar.
hati ini ruangan sesal.

Jumat, Oktober 17, 2008

Penyiksaan Paling Indah Adalah Mengenangmu

- Untuk sebuah cerita yang terlalu cepat mencapai akhir-

Dari perjalanan panjang sang masa yang lapuk,
masih aku hirup wangi ucapanmu pada suatu senja.
Di mana hati, perasaan, kisah serta senyuman. Menyeret
ke dalam bayang bayang yang menggoda keimanan kita.
Awan berwarna oranye memancarkan cahaya kelelahan sang mentari.
kita menikmatinya dengan diam dan membiarkan hati masing masing
berbicara. Tentang cinta, tentang rasa. Tak lupa sedikit intermezo
berupa dusta. " keindahan yang fana, lahirlah!"

Aku buka pikiranku pada bab kenangan denganmu.
lidahku mengecap lezat tatapanmu yang penuh hasrat.
bunyi decitan marmut mengerat jeruji kandangnya,
Aku terlempar pada bayangan wajahmu yang memukau.
yang mengisyaratkan ketulusan pada awal tatapan, lalu
begitu mudah menjelma dan merekah menjadi pendustaan.
hingga tersadar, cinta buyar.

Penyiksaan paling indah adalah mengenangmu
dosa paling mengesankan adalah menggenggam tanganmu.
walau tak ada lagi sebenarnya hubungan kita. Namun,
jiwa ini bergetar bagai perjalanan kereta tua, setiap kali
angin menghembuskan wangi tubuhmu, bersama menyengat
bau dupa dan bunga tujuh rupa. " Angin, tolonglah aku!"
Hembuskan lagi semuanya, tapi berhentilah. Saat
wangi tubuhnya telah bercampur...

bau tanah merah...

Selasa, Oktober 14, 2008

merindumu

Aku merindumu pada malam malam yang basah oleh air mata.
bayang bayang kelam menggiringku pada pertanyaan pertanyaan tanpa jawaban.
adakah wajahmu seindah bintang?. Atau hanya sekadar asap hasil pembakaran dupa. Yang
menyeruak lalu hilang begitu saja. Aku lupa, aku terluka. terbiarkan waktu begitu
renta...

Kepada hamparan bintang bintang itu.
Aku ceritakan tenang gundah ini, lalu bertanya harus apa?
namun terlalu jauh dan aku tak mampu berteriak lebih lantang. Luka
yang menganga di lambungku membuat aku begitu kesakitan.
bagai infeksi berkepanjangan dan hanya menunggu eksekusi amputasi.

Aku merindumu pada malam malam yang basah oleh air mata.
kepada siapakah lagi aku harus bercerita dan merangkai naskah mimpi.
tanganku lelah seperti mati rasa dan tak mampu digerakkan. kecuali
dengan hasrat percintaan yang besar dan ketulusan.

angin meniup debu melukis bulan...
aku terdiam saja menatap kelam...
kerinduan ini biarkan saja...
biar tak tertuntaskan...

lambungku semakin infeksi...

Senin, Oktober 13, 2008

Pertemuan di sebuah senja

Pertemuan kita melahirkan kata kata tak bermakna. sebab
menguap begitu saja, tanpa pernah kuhirup sebelumnya.
sebuah ketergesa gesaan tak terkendali, aku hampiri sekali lagi.
perasaan cinta, sungguh bukan yang aku harapkan ada
hanyalah sebuah pikiran konyol dari otakku yang ngebul.
dan kaupun memberanikan diri kepada hati, ngibul.

pertemuan kita di sebuah senja adalah
kesalahan paling tak berdasar dalam hidupku. betapa
tipuan begitu leluasa menyeruak bak aroma mayat korban kebakaran
gedung tua. Aku seperti bayi yang baru belajar melangkah. Sangat polos,
sangat bodoh, kurasakan otakku membisikan bunyi mesin kereta tua.
dan tak kuasa hati menolak kebisingan percintaan ini. terlena.

pernyataan cinta yang tak sengaja tercipta, melahirkan euforia tak bernama.
kurasakan bahwa mulutku serigala, pernyataanku menerkammu yang pasrah saja.
darahmu menetes deras, matamu menatap lemas, suaramu siksaan,
betapa aku semakin liar merangkai pendustaan.
namun kau saja yang bodoh sekarang, membunyikan genderang perang di haluan.

sayang, aku kehilanganmu pun di waktu senja.
mentari yang dulu hampir terbenam. kini tak bersinar untukku. meski
di waktu pagi.

sayang, aku kehilanganmu pun di waktu senja.
tapi tak pernah aku berharap lagi...

kau akan datang di waktu siang...

Sabtu, Oktober 11, 2008

Cinta itu adalah darah

cinta itu adalah darah...
segarnya menggoda untuk menyirami diri dengannya, seperti
bibir perawan yang ranum, mengeluarkan belati kata.
dan aku salahsatu korbannya.


Cinta itu adalah darah...
kental, terkadang cair atau malah tak terjelaskan
ngilu yang menyelinap malu di hatiku
itupun hasil pembodohannya, tapi kata ibu
" bukankah kau yang menyayat nadimu sendiri?"

Identity

aku...
pria kesepian yang menghabiskan waktu dalam kesendirian berkepanjangan
desah angin, langit malam yang diam, lima enam bintang berbisik lirih
tak ada nama yang mengiasi tik tok sang waktu, peri telah mati.
penyihirannya masih menjadi alasan mengapa aku begitu terlena pada sebuah wajah yang oval
tak ada penawar. tak ada rasa lain selain tawar.


dan kini di sebuah dermaga,
para kelasi tua menamainya kesepian. Betapa
auranya adalah kesendirian. wanginya adalah penyiksaan...
anyir darah, lengket nanah dan beberapa yang menyengat seperti bangkai.
kapal tua atau kepala manusia.


aku...
pria kesepian yang menghabiskan waktu dalam kesendirian berkepanjangan
desah angin, langit malam yang diam, lima enam bintang berbisik lirih
tak ada hati di sini. Bahkan
milikku sendiri...