Kamis, Desember 11, 2008

Puisi puisi bulan perdana

puisi puisi ini merupakan refleksi dari sebuah kisah yang luar biasa indah - setidaknya menurutku senidiri-






Pra I

Pada awalnya hanya hembusan angin.
Dingin yang menusuk sampai ulu hati, ini hati sepi.
Aku berjalan dalam wangi senyap malam hari. Denting
suara kaca terbanting. Rongsokan ini bernama jiwa, perasaan
gila disebut kesendirian. Dermaga wangi luka, betah
aku di sana...

Selanjutnya, wajah malam muram mendung.
Potretku terbanting dari dinding. Lepas begitu saja lalu
terserak. Aku bagai dikafani, pucat fajar menguburkanku pada
makam bernama kegilaan. Suatu saat, kelak, tak berharap(aku)
banyak orang berziarah ke sana. Bertemanlah dengan rumput, cacing,
belatung, cacing lagi dan rumput lagi. Gerbang hanya akan terbuka dengan
rasa bernama apa adanya...

Kugaris lurus sejak fajar hingga malam. Warna
memvisualkan anyep kata kataku. Puisi tak lagi hidup,
penaku redup disirami sampai kalut. Tak ada kata, tak ada
puisi, akhirnya.
Hanya ada hembusan angin, dan wajah mendung sang
malam.

Pra II

Malam bukan sekedar gelap
bukan sekedar kelam
bukan sekedar sepi
bukan sekedar sunyi

fajar bukan hanya sendiri
bukan hanya mengasing
bukan hanya menutup hati
bukan hanya mati

Jiwa bukan hanya sekedar membeku
tapi juga retak
tapi juga pecah
tapi juga kalah
tapi juga hadir bisikan aku lelah

Malam dan fajar dan jiwaku
sepi seperti sudah mati.

Pra III

There's no way in the night
I still dreaming about the light.
My heart is gonna lost,
and someone's face destructing my mind

There's no way in the night
the light is nothing...
my heart is broken, life is
still alone.


Looking for...

Perjalanan panjang, seribu lelah menggelayuti betisku.
Cahaya semakin dekat semakin meredup, hanya ada
asa seseondok teh. Menghidupkanku bagai hujan
bulan Juli. Kemarau pencarian ini, dan aku hampir mati
kehausan...

Perjalanan panjang, tubuhku basah oleh keringat penasaran.
Langkah langkah kaki semakin berat. Cit cit suara curut
mengerat semangatku. Melelmah...

Hidup bagiku, kini, adalah perjalanan adalah pencarian
adalah penasaran adalah ketakutan adalah mati.
Jiwaku menari nari...
berkata ia" suatu saat past kan kita
temui".

Cahaya adalah pilihan

Wanita wanita datang pergi duniaku. Menawarkan cinta atau
sekedar mampir sekedar berlindung dari petir. Senyum senyum
mereka melekat fana di dinding kamarku. Ingin aku buang saja.

tapi bersinar satu wajah, cahayanya jelas sedang yang lain kabur,
sadar aku tak istimewa. Sajakku tak mewah, intaku hanya merah.

tapi bersinar satu wajah, tempat mata, hidung, bibir bersatu dalam
anggun senyuman rasa anggur. Perjalananku tak sedang menganggur.

Dan wajah itu...
Yang bersinar yang tersenyum yang tak sedang tidur.
Membawaku pada angan angan tentang mimpi mimpi lama.
Bahwa aku akan bertemu...
Suatu saat di mana bunga di mana daun di mana mana negeri
yang musim salju menghembuskan aroma yang tak lain adalah cinta.
sejatinya...

Dan wajah itu bercahaya...
Ada banyak pilihan di sana dengan satu muaranya.
Tak lagi aku dapati ragu.
Pilihan adalah sesuatu yang kita mesti punya satu,

selalu...
langit langit kamarku bertanya pada dinding dinding kamarku,
" siapa namanya?"
- Nurma-
O cahaya.

Ramadhan pukul 3 sore

Akhirnya adalah aku sudah memilih.
Perasaan, ternyara dimulai sebelum berbuka.
Kata kata, cerita cerita, cinta cinta,
milik kita semuanya.

Aku bersandar pada lapar,
tapi wajahmu tak pernah pudar.

Aku berakhir pada suara adzan,
" besok, pukul 3 sore lagi, ya!"
kataku.


Menanam rasa.

Karena aku telah memilih, maka mesti aku ukir cinta.
Pada setiap tatapanya, senyum, perkataanya agar serupa dengan ini hati.
Tak terbendung bahwa aku mengharapkannya,
dengan malam malam merindu dan fajar fajar dengan aura mentarinya.
O aku tlah memilih tlah menanam.

Lahan yang terbuka di mimpiku. Tanahnya gembur, disirami
harapan harapan yang menguap jadi butiran hujan perasaan.
Aku memilih mawar...terlebih dahulu.
Bayang kehidupannya menjadikan semua tak berduri, jauh
dari menyiksa dan dusta. Kau menyebutnya ketulusan. Apa adanya.

Tergalilah tanah, di bawah, di ujung sana.
Aku melihat cacing! Aku melihat cacing!
Aku berikan waktu pada mereka untuk melenting jantungku.
Ditanamlah satu cinta ke bawah sana, milliku yang tunggal.
Aku pasrahkan padanya...
pada setiap tatapan, senyum dan perkataanya.
Dan...
Aku melihat cacing!

Klimaks pengharapan

Harapan ini tlah sampai klimaks.
bangunku senyummu,
kantukku matamu,
lelapku senyummu,
jalanku tawamu,
tak bisalah lepas dari bayang bayangmu.

Ucapanku ucapanmu, senyumku senyummu, bahagiaku bahagiamu,
perjalananku adalah perjalananmu,
pada siapa?
-padamu-

Kepadamu

Aku berjalan, awalnya melewati gerbang kesepian. Kepada duniamu
aku langkahkan mimpiku sepenuhnya. Bersama desau angin dan
panas siang dengan gemuruh derap kaki. Masih ingatkah,
saat kita pertama kali bertemu?. Matamulah yang pertama tama
menyihirku.
selanjutnya...
Wangi ucapanmu dan aura ketulusanmu yang menenangkanku.

Aku berjalan, awalnya melewati gerbang kesepian. Tak mengerti
mengapa angin di luar dermaga begitu menusuk. Jiwaku menggigil
sampai akhir, tengah malam adalah orkestra kerinduan dan hamburan cahaya pengharapan.
maka, aku berjalan, awalnya melewati gerbang kesepian. Kepada hatimu,
cinta kutitipkan.


a Letter...

Nurma,
esok...
Di saat mentari masih hangat.
aku ingin bertemu...
aku ingin bicara...

Jangan tanya tentang apa,
sesungguhnya kau telah
mengetahui.


Breaking the silent

Kaulah gadis yang memecah sepi dengan tawamu.
aku ingin mencium hidupmu, " bukankah
semua yang terlihat adalah untukku?". Desahku

Kaulah gadis yang memecah sepi dengan ucapanmu.
begitu lembut menyentuhku, " apakah
ini namanya cinta?".

Kau yang memecah sepi,
kau yang membuat sendiri tak lagi.

Kau gadis yang mencuri hatiku.
sampai jua ke
saripatinya...



Kamis, Desember 04, 2008

Sebuah mimpi tentang sebuah harapan

Mimpi adalah hal paling indah setelah kematian.
Mata yang terpejam dan pikiran yang melayang, hadir bayangan
sejenis hantu. Sekelebat nyata, seketika membuta mata. Tahukah kau,
kerap kali aku bermimpi seraya berjalan, atau berjalan seraya berkhayal.
tentang wajah yang memukau, milikmu.

Harapan memiliki senyummu selamanya, merupakan hal paling muluk dalam
hidupku. Decut batang bambu ditiup angin. Pernah aku berbicara tentang sebuah
kerinduan, lantas pingsan saat tak sanggup menahan. Rasa ini begitu menyiksa,
sadarkah senyummu itu terlalu indah?. untuk aku dapat berhenti menggores harapan di
batang jati. bahkan sekedar berhenti saat tanganku berdarah, lelah. Sedang,

saat harapan dan mimpi bersatu, euforia apakah yang meninggi
itu?. Yang jiwaku penuh dengan alis mata, aroma, jari jemari dan suara kekanak kanakan yang
riang?. Seperti saat tubuh kecil diguncang jungkat jungkit, tapi lantas menangis saat terik menusuk hidungnya. Perlahan, aku merasakan ini hati begitu sesak. Penuh oleh bisikan bisikan ketulusan, yang didikte angin untuk menyusun butiran debu menjadi gundukan
berbentuk hati. Mimpi tentang sebuah harapan semakin menjadi. Aku kerap kaliberjalan seraya bermimpi. Khayalanku telah sampai henti.

senyummu...

Selasa, November 18, 2008

Hujan sore itu

15 november, sore hari yang dibalut hujan aroma cinta

Hujan sore itu mendesirkan cinta. Rasa,
mimpi, kasih, dingin angin menjadikannya abadi.
dalam rupa dialog kita yang menghamburkan asmara.
dan satu dua alirannya bermuara di tatapanmu.
rasa bibir ini kelu, aku atau kau yang tak mampu
berkata lagi...

Hujan sore itu bernama keindahan. Tetesan air,
lembabnya petir dan gemuruh, mengisyaratkan betapa
ini cinta tak terbendung jua gejolaknya. Dan
kita berbincang lalui hati dan perasaan. " kasih,
jangan tatap aku lebih dalam". Aku bisa hanyut
bersama gelombang euforia bernama bayang bayang itu.
dan tenggelam pada rasa percintaan yang tak jelas palungnya.
sebab terlalu dalam...

Kalau hujan ini tlah sampai henti.
bahkan untuk melepas tatapanmu, pun aku tak rela.
ingin kuabadikan menjadi zam zam bagi dahaga padang gersang
dan mekarnya edelwish di puncak hatiku yang berkhayal
panjang...

Hujan sore itu mendesirkan cinta dan kunamai saja keindahan.
aku ingin kuyup pada deras indah senyumanmu
lalu mandi dengan hangat siraman ucapanmu,
" kalau hujan ini berhenti, sayang. Hadirkanlah lembayung
di mimpiku. Dan keabadian lembar demi lembar

kisah kita!".

Nurma

Kalau ini sebuah keindahan
maka jangan akhiri, sayang.
sungguh aku inginkan, semua
yang terjalin menjadi abadi.
tanpa kata akhir, walau semuanyapun mengalir. Ke arah
hilang...

Nurma,
adalah anugerah.
saat dirimu mempersembahkan cinta,
menyuguhkan hati, dan menghamburkan rasa padaku.
bukan hati yang bergetar, tapi cintaku terlampau besar
untuk dapat waktu memberikan batas padanya.
maka jangan akhiri, sayang.

Nurma, aku yang mencintaimu.
melahirkan rasa yang selamanya kan kujaga.
bukan sekedar kata kata mengudara, tapi
lebih dari apapun di hatiku. Adalah kau.
bukan makhluk negeri seberang atau peri masa lampau.
yang itu...

Nurma, kaulah keindahan pertama yang
datang ke dermaga bernama kesepian ini.
Dan aku putuskan, kaulah
perhetian...

maka jangan akhiri, sayang.

18 november, saat wajahnya sepenuhnya menghantui.

Sebuah dialog dalam diam

Awalnya aku hanya tersenyum,
dan ternyata kaupun hanya tersenyum.

Setelah itu aku hanya diam,
dan ternyata kaupun hanya diam.

Selanjutnya kuputuskan hanya mengadah,
dan kaupun memutuskan untuk mengangguk.

Seterusnya aku selalu tersenyum,
kaupun selalu tersenyum lebih indah.

Akhirnya aku benar benar tak berkata,
jiwaku tersipu.
Dan kau menunduk malu,
pipimu memerah...

sepasang merpati di atas sana.

11 november, sebuah kantin.

Selasa, November 11, 2008

Dikte Mimpi

Kasih, perjalananku terhenti padamu. Batu batu,
daun daun, dan nisan dari perjalananku membeku.
Angin membawaku pada sebuah muara, Di mana
aura adalah kau, airnya adalah kau, bayang bayang
membuaiku dalam alunan melodi tanpa nama. Jiwaku
menari dalam ketukan tak beraturan. Namun,
tenggelam pada desah nafasmu yang perlahan. Melemaskan
semua persendian.

Kasih, perjalananku terhenti padamu. Sinaran mata,
bibir yang ranum, dan ucapanmu yang mendikte mimpi. Tentang
kerinduan yang menebal dari resah ke sumringah. Mencipta
hasrat yang menggebu untuk menciumi hidupmu yang bertanya.
Betapa rindu ini tak tertahan, jiwa ini basah
oleh air matamu yang keruh tak karuan.

sedang ucapanmu masih mendikte mimpi tentang kerinduan yang mendalam. Di jiwa

Ingatkah kau pada mentari itu, yang suatu senja membuatnya
tenggelam dengan penuh ajakan kerinduan. Kita berbincang malu,
tentang perasaan perasaan gila. Yng sampai menelusup ke mimpi mimpi
kita. lalu berkata kata tentang wangi malam, bintang bintang,
dan bayang bayang yang merangkak dari taman ke taman.

Sedang ucapanmu kini mendikte sangat cepat, aku simpulkan saja
bahwa kau berkata " Aku mencintaimu, Na. Aku pasrahkan saja ini
perasaan, sampai suatu ketika menjadi abadi dan ketika mati dengan
saling tersenyum.

Aku hanya merasakan hatiku bergetar,
" kalau begitu, aku ingin kita dikubur dengan nisan yang sama".

" maksudmu, Na?".

Kamis, Oktober 23, 2008

Lie

- untuk iblis yang menyamar peri, yang padanya sebuah kesalahan terjadi-

cintaku adalah kutukan, sedang sekarang,
kau adalah manusia dengan rupa siluman. Betapa
rasa yang kau panasi sampai menguap, tertiup angin malam,
dan menghilang tanpa sisa di entah. Serta aku tak sanggup,
jika harus menuangkan cinta ini pada cawan hatimu yang kotor.
serupa tempat dedak yang sudah dupatuki itik. Pendustaan yang menyayat,
bagimu mungkin hanya sekedar menggelitik saja.

Waktu terpaksa menjadi saksi. Bahwa
aku pernah memanggilmu peri dan menyuguhkan hati,
tapi kau sendiri yang membuatku mual dengan itu. sebuah muka
di balik muka. Dan aku lebih memilih untuk tidak
memperhatikan keduanya. kecantikanmu cukup untuk membuat
mataku buta dan hatiku bisu. serta tak mengerti
tentang arah arah.

kini kau ada di mana?
mungkinkah di sebuah jalan raya yang sunyi,
tempat para pria kaya mampir dengan resleting terbuka lebar dan
wajah penuh nafsu. Kal an'am. Kau dan mereka.

Mungkin juga di sebuah kamar yang lembab.
Tubuhmu basah diserang cumbu cumbu pria bermuka domba.
Tapi itulah yang kau pilih!. Enyah dari putih cintaku dan
menghampiri hati lain yang memproduksi rupiah. Kalau begitu,
kau mungkin menjadi jalang. Boneka milik pemuda berhidung belang.
yang menyerang ganas kehormatanmu.

Sayang, sebaiknya kau membuat upacara pergantian nama,
bersama ribuan dupa yang terbakar dan bunga tujuh rupa yang mekar.
undang juga bintang binatang itu, bersama juga iblis dan syetan.
suci? sungguh sama sekali tak

sejalan dengan keadaan.

Sabtu, Oktober 18, 2008

first love

- untuk Elis suryaningsih-

sayang, ingatan ini akar belukar.
hati ini ruangan sesal.

Jumat, Oktober 17, 2008

Penyiksaan Paling Indah Adalah Mengenangmu

- Untuk sebuah cerita yang terlalu cepat mencapai akhir-

Dari perjalanan panjang sang masa yang lapuk,
masih aku hirup wangi ucapanmu pada suatu senja.
Di mana hati, perasaan, kisah serta senyuman. Menyeret
ke dalam bayang bayang yang menggoda keimanan kita.
Awan berwarna oranye memancarkan cahaya kelelahan sang mentari.
kita menikmatinya dengan diam dan membiarkan hati masing masing
berbicara. Tentang cinta, tentang rasa. Tak lupa sedikit intermezo
berupa dusta. " keindahan yang fana, lahirlah!"

Aku buka pikiranku pada bab kenangan denganmu.
lidahku mengecap lezat tatapanmu yang penuh hasrat.
bunyi decitan marmut mengerat jeruji kandangnya,
Aku terlempar pada bayangan wajahmu yang memukau.
yang mengisyaratkan ketulusan pada awal tatapan, lalu
begitu mudah menjelma dan merekah menjadi pendustaan.
hingga tersadar, cinta buyar.

Penyiksaan paling indah adalah mengenangmu
dosa paling mengesankan adalah menggenggam tanganmu.
walau tak ada lagi sebenarnya hubungan kita. Namun,
jiwa ini bergetar bagai perjalanan kereta tua, setiap kali
angin menghembuskan wangi tubuhmu, bersama menyengat
bau dupa dan bunga tujuh rupa. " Angin, tolonglah aku!"
Hembuskan lagi semuanya, tapi berhentilah. Saat
wangi tubuhnya telah bercampur...

bau tanah merah...

Selasa, Oktober 14, 2008

merindumu

Aku merindumu pada malam malam yang basah oleh air mata.
bayang bayang kelam menggiringku pada pertanyaan pertanyaan tanpa jawaban.
adakah wajahmu seindah bintang?. Atau hanya sekadar asap hasil pembakaran dupa. Yang
menyeruak lalu hilang begitu saja. Aku lupa, aku terluka. terbiarkan waktu begitu
renta...

Kepada hamparan bintang bintang itu.
Aku ceritakan tenang gundah ini, lalu bertanya harus apa?
namun terlalu jauh dan aku tak mampu berteriak lebih lantang. Luka
yang menganga di lambungku membuat aku begitu kesakitan.
bagai infeksi berkepanjangan dan hanya menunggu eksekusi amputasi.

Aku merindumu pada malam malam yang basah oleh air mata.
kepada siapakah lagi aku harus bercerita dan merangkai naskah mimpi.
tanganku lelah seperti mati rasa dan tak mampu digerakkan. kecuali
dengan hasrat percintaan yang besar dan ketulusan.

angin meniup debu melukis bulan...
aku terdiam saja menatap kelam...
kerinduan ini biarkan saja...
biar tak tertuntaskan...

lambungku semakin infeksi...

Senin, Oktober 13, 2008

Pertemuan di sebuah senja

Pertemuan kita melahirkan kata kata tak bermakna. sebab
menguap begitu saja, tanpa pernah kuhirup sebelumnya.
sebuah ketergesa gesaan tak terkendali, aku hampiri sekali lagi.
perasaan cinta, sungguh bukan yang aku harapkan ada
hanyalah sebuah pikiran konyol dari otakku yang ngebul.
dan kaupun memberanikan diri kepada hati, ngibul.

pertemuan kita di sebuah senja adalah
kesalahan paling tak berdasar dalam hidupku. betapa
tipuan begitu leluasa menyeruak bak aroma mayat korban kebakaran
gedung tua. Aku seperti bayi yang baru belajar melangkah. Sangat polos,
sangat bodoh, kurasakan otakku membisikan bunyi mesin kereta tua.
dan tak kuasa hati menolak kebisingan percintaan ini. terlena.

pernyataan cinta yang tak sengaja tercipta, melahirkan euforia tak bernama.
kurasakan bahwa mulutku serigala, pernyataanku menerkammu yang pasrah saja.
darahmu menetes deras, matamu menatap lemas, suaramu siksaan,
betapa aku semakin liar merangkai pendustaan.
namun kau saja yang bodoh sekarang, membunyikan genderang perang di haluan.

sayang, aku kehilanganmu pun di waktu senja.
mentari yang dulu hampir terbenam. kini tak bersinar untukku. meski
di waktu pagi.

sayang, aku kehilanganmu pun di waktu senja.
tapi tak pernah aku berharap lagi...

kau akan datang di waktu siang...

Sabtu, Oktober 11, 2008

Cinta itu adalah darah

cinta itu adalah darah...
segarnya menggoda untuk menyirami diri dengannya, seperti
bibir perawan yang ranum, mengeluarkan belati kata.
dan aku salahsatu korbannya.


Cinta itu adalah darah...
kental, terkadang cair atau malah tak terjelaskan
ngilu yang menyelinap malu di hatiku
itupun hasil pembodohannya, tapi kata ibu
" bukankah kau yang menyayat nadimu sendiri?"

Identity

aku...
pria kesepian yang menghabiskan waktu dalam kesendirian berkepanjangan
desah angin, langit malam yang diam, lima enam bintang berbisik lirih
tak ada nama yang mengiasi tik tok sang waktu, peri telah mati.
penyihirannya masih menjadi alasan mengapa aku begitu terlena pada sebuah wajah yang oval
tak ada penawar. tak ada rasa lain selain tawar.


dan kini di sebuah dermaga,
para kelasi tua menamainya kesepian. Betapa
auranya adalah kesendirian. wanginya adalah penyiksaan...
anyir darah, lengket nanah dan beberapa yang menyengat seperti bangkai.
kapal tua atau kepala manusia.


aku...
pria kesepian yang menghabiskan waktu dalam kesendirian berkepanjangan
desah angin, langit malam yang diam, lima enam bintang berbisik lirih
tak ada hati di sini. Bahkan
milikku sendiri...