puisi puisi ini merupakan refleksi dari sebuah kisah yang luar biasa indah - setidaknya menurutku senidiri-Pra I
Pada awalnya hanya hembusan angin.
Dingin yang menusuk sampai ulu hati, ini hati sepi.
Aku berjalan dalam wangi senyap malam hari. Denting
suara kaca terbanting. Rongsokan ini bernama jiwa, perasaan
gila disebut kesendirian. Dermaga wangi luka, betah
aku di sana...
Selanjutnya, wajah malam muram mendung.
Potretku terbanting dari dinding. Lepas begitu saja lalu
terserak. Aku bagai dikafani, pucat fajar menguburkanku pada
makam bernama kegilaan. Suatu saat, kelak, tak berharap(aku)
banyak orang berziarah ke sana. Bertemanlah dengan rumput, cacing,
belatung, cacing lagi dan rumput lagi. Gerbang hanya akan terbuka dengan
rasa bernama apa adanya...
Kugaris lurus sejak fajar hingga malam. Warna
memvisualkan anyep kata kataku. Puisi tak lagi hidup,
penaku redup disirami sampai kalut. Tak ada kata, tak ada
puisi, akhirnya.
Hanya ada hembusan angin, dan wajah mendung sang
malam.
Pra II
Malam bukan sekedar gelap
bukan sekedar kelam
bukan sekedar sepi
bukan sekedar sunyi
fajar bukan hanya sendiri
bukan hanya mengasing
bukan hanya menutup hati
bukan hanya mati
Jiwa bukan hanya sekedar membeku
tapi juga retak
tapi juga pecah
tapi juga kalah
tapi juga hadir bisikan aku lelah
Malam dan fajar dan jiwaku
sepi seperti sudah mati.
Pra III
There's no way in the night
I still dreaming about the light.
My heart is gonna lost,
and someone's face destructing my mind
There's no way in the night
the light is nothing...
my heart is broken, life is
still alone.
Looking for...
Perjalanan panjang, seribu lelah menggelayuti betisku.
Cahaya semakin dekat semakin meredup, hanya ada
asa seseondok teh. Menghidupkanku bagai hujan
bulan Juli. Kemarau pencarian ini, dan aku hampir mati
kehausan...
Perjalanan panjang, tubuhku basah oleh keringat penasaran.
Langkah langkah kaki semakin berat. Cit cit suara curut
mengerat semangatku. Melelmah...
Hidup bagiku, kini, adalah perjalanan adalah pencarian
adalah penasaran adalah ketakutan adalah mati.
Jiwaku menari nari...
berkata ia" suatu saat past kan kita
temui".
Cahaya adalah pilihan
Wanita wanita datang pergi duniaku. Menawarkan cinta atau
sekedar mampir sekedar berlindung dari petir. Senyum senyum
mereka melekat fana di dinding kamarku. Ingin aku buang saja.
tapi bersinar satu wajah, cahayanya jelas sedang yang lain kabur,
sadar aku tak istimewa. Sajakku tak mewah, intaku hanya merah.
tapi bersinar satu wajah, tempat mata, hidung, bibir bersatu dalam
anggun senyuman rasa anggur. Perjalananku tak sedang menganggur.
Dan wajah itu...
Yang bersinar yang tersenyum yang tak sedang tidur.
Membawaku pada angan angan tentang mimpi mimpi lama.
Bahwa aku akan bertemu...
Suatu saat di mana bunga di mana daun di mana mana negeri
yang musim salju menghembuskan aroma yang tak lain adalah cinta.
sejatinya...
Dan wajah itu bercahaya...
Ada banyak pilihan di sana dengan satu muaranya.
Tak lagi aku dapati ragu.
Pilihan adalah sesuatu yang kita mesti punya satu,
selalu...
langit langit kamarku bertanya pada dinding dinding kamarku,
" siapa namanya?"
- Nurma-
O cahaya.
Ramadhan pukul 3 sore
Akhirnya adalah aku sudah memilih.
Perasaan, ternyara dimulai sebelum berbuka.
Kata kata, cerita cerita, cinta cinta,
milik kita semuanya.
Aku bersandar pada lapar,
tapi wajahmu tak pernah pudar.
Aku berakhir pada suara adzan,
" besok, pukul 3 sore lagi, ya!"
kataku.
Menanam rasa.
Karena aku telah memilih, maka mesti aku ukir cinta.
Pada setiap tatapanya, senyum, perkataanya agar serupa dengan ini hati.
Tak terbendung bahwa aku mengharapkannya,
dengan malam malam merindu dan fajar fajar dengan aura mentarinya.
O aku tlah memilih tlah menanam.
Lahan yang terbuka di mimpiku. Tanahnya gembur, disirami
harapan harapan yang menguap jadi butiran hujan perasaan.
Aku memilih mawar...terlebih dahulu.
Bayang kehidupannya menjadikan semua tak berduri, jauh
dari menyiksa dan dusta. Kau menyebutnya ketulusan. Apa adanya.
Tergalilah tanah, di bawah, di ujung sana.
Aku melihat cacing! Aku melihat cacing!
Aku berikan waktu pada mereka untuk melenting jantungku.
Ditanamlah satu cinta ke bawah sana, milliku yang tunggal.
Aku pasrahkan padanya...
pada setiap tatapan, senyum dan perkataanya.
Dan...
Aku melihat cacing!
Klimaks pengharapan
Harapan ini tlah sampai klimaks.
bangunku senyummu,
kantukku matamu,
lelapku senyummu,
jalanku tawamu,
tak bisalah lepas dari bayang bayangmu.
Ucapanku ucapanmu, senyumku senyummu, bahagiaku bahagiamu,
perjalananku adalah perjalananmu,
pada siapa?
-padamu-
Kepadamu
Aku berjalan, awalnya melewati gerbang kesepian. Kepada duniamu
aku langkahkan mimpiku sepenuhnya. Bersama desau angin dan
panas siang dengan gemuruh derap kaki. Masih ingatkah,
saat kita pertama kali bertemu?. Matamulah yang pertama tama
menyihirku.
selanjutnya...
Wangi ucapanmu dan aura ketulusanmu yang menenangkanku.
Aku berjalan, awalnya melewati gerbang kesepian. Tak mengerti
mengapa angin di luar dermaga begitu menusuk. Jiwaku menggigil
sampai akhir, tengah malam adalah orkestra kerinduan dan hamburan cahaya pengharapan.
maka, aku berjalan, awalnya melewati gerbang kesepian. Kepada hatimu,
cinta kutitipkan.
a Letter...
Nurma,
esok...
Di saat mentari masih hangat.
aku ingin bertemu...
aku ingin bicara...
Jangan tanya tentang apa,
sesungguhnya kau telah
mengetahui.
Breaking the silent
Kaulah gadis yang memecah sepi dengan tawamu.
aku ingin mencium hidupmu, " bukankah
semua yang terlihat adalah untukku?". Desahku
Kaulah gadis yang memecah sepi dengan ucapanmu.
begitu lembut menyentuhku, " apakah
ini namanya cinta?".
Kau yang memecah sepi,
kau yang membuat sendiri tak lagi.
Kau gadis yang mencuri hatiku.
sampai jua ke
saripatinya...
