- untuk iblis yang menyamar peri, yang padanya sebuah kesalahan terjadi-
cintaku adalah kutukan, sedang sekarang,
kau adalah manusia dengan rupa siluman. Betapa
rasa yang kau panasi sampai menguap, tertiup angin malam,
dan menghilang tanpa sisa di entah. Serta aku tak sanggup,
jika harus menuangkan cinta ini pada cawan hatimu yang kotor.
serupa tempat dedak yang sudah dupatuki itik. Pendustaan yang menyayat,
bagimu mungkin hanya sekedar menggelitik saja.
Waktu terpaksa menjadi saksi. Bahwa
aku pernah memanggilmu peri dan menyuguhkan hati,
tapi kau sendiri yang membuatku mual dengan itu. sebuah muka
di balik muka. Dan aku lebih memilih untuk tidak
memperhatikan keduanya. kecantikanmu cukup untuk membuat
mataku buta dan hatiku bisu. serta tak mengerti
tentang arah arah.
kini kau ada di mana?
mungkinkah di sebuah jalan raya yang sunyi,
tempat para pria kaya mampir dengan resleting terbuka lebar dan
wajah penuh nafsu. Kal an'am. Kau dan mereka.
Mungkin juga di sebuah kamar yang lembab.
Tubuhmu basah diserang cumbu cumbu pria bermuka domba.
Tapi itulah yang kau pilih!. Enyah dari putih cintaku dan
menghampiri hati lain yang memproduksi rupiah. Kalau begitu,
kau mungkin menjadi jalang. Boneka milik pemuda berhidung belang.
yang menyerang ganas kehormatanmu.
Sayang, sebaiknya kau membuat upacara pergantian nama,
bersama ribuan dupa yang terbakar dan bunga tujuh rupa yang mekar.
undang juga bintang binatang itu, bersama juga iblis dan syetan.
suci? sungguh sama sekali tak
sejalan dengan keadaan.
Kamis, Oktober 23, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar